Materi Tata Laksana Impor — Bagian E: Soal Perhitungan Pungutan Impor
FOKUS UJIAN: Bagian E menguji perhitungan berantai — menyusun CIF → nilai pabean → BM → Nilai Impor → PDRI. Kunci utamanya adalah memakai dasar yang benar di setiap langkah: BM/BMAD/BMTP dihitung dari nilai pabean, sedangkan PPN/PPh Pasal 22 dihitung dari Nilai Impor.
1. Alur Perhitungan Pungutan Impor
Perhitungan pungutan impor selalu berjalan satu arah: dari harga barang di luar negeri sampai total tagihan di PIB. Soal Bagian E (67–80) menguji tiap tahap — membangun CIF, mengonversi kurs, menghitung BM/cukai, sampai menjumlahkan BM + PPN + PPh.
2. Menyusun CIF dan Nilai Pabean
Indonesia memakai CIF (Cost, Insurance, Freight) sebagai dasar nilai pabean. Bila harga yang disepakati baru FOB, tambahkan freight dan asuransi pengangkutan internasional. Bila asuransi ditutup/dibayar di dalam negeri, komponen insurance dianggap 0 (nol) — seperti pada Soal 67.
| Komponen | Jumlah (Soal 67) | Catatan |
|---|---|---|
| FOB | USD 112.000 | Harga barang yang disepakati |
| Freight | USD 1.200 | Biaya angkut sampai pelabuhan impor |
| Insurance | USD 0 | Asuransi dibayar di dalam negeri → dianggap nol |
| CIF | USD 113.200 | Dasar nilai pabean sebelum dikonversi ke rupiah |
Default Freight dan Asuransi
- Freight dari ASEAN: 5% × FOB.
- Freight dari Asia non-ASEAN dan Australia: 10% × FOB.
- Freight dari luar Asia dan Australia: 15% × FOB — dipakai pada Soal 72: 15% × USD15.000 = USD2.250.
- Asuransi dibayar di luar negeri tetapi tidak ada bukti/polis: ditetapkan 0,5% × CFR (cost and freight).
- Asuransi ditutup di dalam negeri: dianggap 0 (nol) dalam nilai pabean.
Trik cepat: Cek incoterm lebih dahulu. FOB → tambahkan freight + asuransi; CFR → tambahkan asuransi saja; CIF → langsung konversi kurs. Asuransi yang ditutup di dalam negeri selalu nol, sedangkan freight dari luar Asia yang tidak tercantum selalu 15% × FOB.
3. Kurs: CIF Valas → Nilai Pabean Rupiah
Nilai pabean dihitung dalam rupiah memakai NDPBM (Nilai Dasar Perhitungan Bea Masuk) — kurs pajak yang ditetapkan Menteri Keuangan dan berlaku pada saat kode billing diterbitkan. Contoh Soal 68: CIF USD113.200 × Rp13.000 = Rp1.471.600.000.
4. Dari Nilai Pabean ke Bea Masuk
Bea Masuk dihitung dari nilai pabean, bukan dari Nilai Impor. Tarif advalorum memakai persentase, sedangkan tarif spesifik memakai kuantitas — pada tarif spesifik, FOB dan kurs tidak dipakai (Soal 77).
| Pungutan | Rumus | Dasar pengenaan |
|---|---|---|
| BM advalorum | % tarif × nilai pabean | Nilai pabean |
| BM spesifik | jumlah satuan × tarif per satuan | Kuantitas (kg/liter) |
| Cukai (BKC) | volume × tarif cukai | Volume (liter) |
| BMAD / BMTP | % tarif × nilai pabean | Nilai pabean |
| Nilai Impor | NP + BM + Cukai + BMAD/BMTP | Menjadi dasar PDRI |
5. Nilai Impor dan PDRI
Nilai Impor adalah dasar pengenaan PDRI: Nilai Impor = Nilai Pabean + BM + Cukai (+ BMAD/BMTP). PPN, PPnBM, dan PPh Pasal 22 selalu dihitung dari Nilai Impor ini.
- PPN impor: 11% × Nilai Impor.
- PPh Pasal 22: 2,5% × Nilai Impor (API), 7,5% (non-API/barang tertentu), dan 15% bila tanpa NPWP.
- PPnBM: tarif PPnBM × Nilai Impor (barang mewah).
- Total tagihan: BM + PPN + PPnBM + PPh Pasal 22.
Jangan tertukar: BM dihitung dari nilai pabean, sedangkan PPN dan PPh Pasal 22 dihitung dari Nilai Impor. Saat ada BMAD/BMTP, keduanya ikut menjadi komponen Nilai Impor sebelum PDRI dihitung (Soal 80).
6. Cukai, BMAD, dan BMTP
- Cukai MMEA impor: golongan B Rp53.000/liter, golongan C Rp152.000/liter; Etil Alkohol Rp20.000/liter.
- Cukai dihitung dari volume, bukan nilai: Soal 73 — 1.000 botol @500 ml = 500 liter × Rp152.000 = Rp76.000.000.
- BMAD dikenakan atas barang dumping yang merugikan industri dalam negeri; dasar pengenaannya % tarif BMAD × nilai pabean.
- BMTP (tindakan pengamanan) memakai dasar yang sama dengan BMAD, yaitu % tarif × nilai pabean.
- Nilai Impor saat ada BMAD: nilai pabean + BM biasa + BMAD (ditambah cukai bila barang kena cukai).
7. Contoh Berantai: Soal 67–71 (PT ABC)
Data Soal 67–71: FOB USD112.000, freight USD1.200, asuransi dibayar di dalam negeri, kurs Rp13.000/USD, BM 10%, PPN 11%, dan PPh Pasal 22 7,5%.
| Langkah | Perhitungan | Hasil |
|---|---|---|
| CIF | 112.000 + 1.200 + 0 | USD 113.200 |
| Nilai Pabean | USD 113.200 × Rp13.000 | Rp 1.471.600.000 |
| Bea Masuk | 10% × Rp1.471.600.000 | Rp 147.160.000 |
| Nilai Impor | Rp1.471.600.000 + Rp147.160.000 | Rp 1.618.760.000 |
| PPN 11% | 11% × Rp1.618.760.000 | Rp 178.063.600 |
| PPh Pasal 22 7,5% | 7,5% × Rp1.618.760.000 | Rp 121.407.000 |
| Total pungutan | 147.160.000 + 178.063.600 + 121.407.000 | Rp 446.630.600 |
8. Contoh Lain di Bagian E
| Soal | Inti hitungan | Hasil |
|---|---|---|
| 72 | Freight default 15% × FOB (FOB = 5 ton × USD3.000) | Freight USD 2.250 |
| 73 | Cukai = 1.000 botol × 500 ml = 500 liter × Rp152.000 | Rp 76.000.000 |
| 74 | Nilai pabean = (1.000 × USD100) × Rp13.000 | Rp 1.300.000.000 |
| 75 | BM = 150% × Rp1.300.000.000 | Rp 1.950.000.000 |
| 77 | BM spesifik = 10.000 ton = 10.000.000 kg × Rp450 | Rp 4.500.000.000 |
Urutan yang diuji di Soal 76: hitung BM lebih dahulu, lalu Nilai Impor, baru PDRI — jangan menghitung PDRI langsung dari nilai pabean. Perhatikan juga jebakan tarif spesifik (Soal 77): dasar hitungnya kuantitas, bukan FOB.
Ringkasan satu baris: CIF → × kurs → nilai pabean → BM/Cukai/BMAD → Nilai Impor → PDRI → total tagihan.